Selasa, 07 Desember 2010

Kisah Cinta Soekarno dan Ratna Sari Dewi

Ada beberapa kalimat yang pernah terucap dari bibir Bung Karno sebagai ungkapan cinta yang puitis terhadap Hartini dan Ratna Sari Dewi.
“Tiada pernah aku melihat pengabdian seorang istri yang lebih besar dari apa yang telah Hartini berikan kepadaku. Karenanya bila aku mati, aku ingin di makamkan berdampingan dengan Hartini.”
“Tiada pernah aku merasakan cinta yang begitu besar kecuali terhadap Dewi, karenanya bila aku mati maka kuburlah kami dalam satu lubang yang sama”

Sabtu, 04 Desember 2010

Tekad Membebaskan Irian Barat

Pidato Presiden Sukarno

Di Palembang, 10 April 1962
Saudara-saudara, lebih dahulu sebagai biasa, salam Islam: Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Kemudian, pekik merdeka: Merdeka!
Saudara-saudara, sekalian, November 60 Bapak datang disini, dan sekarang syukur alhamdulillah datang lagi disini. Sekarang bulan April 1962.

Jumat, 03 Desember 2010

Soekarno Dalang Kecemburuan Seorang Wanita

Bukan hanya wanita dusun bahkan istri Panglima Tertinggi ABRI dan Pemimpin Besar Revolusi juga dilanda demam cemburu ini. Yang membedakan disini hanya cara mengungkapkan perasaan cemburu bila dia menyandang gelar “Istri Presiden Soekarno”
Sukarno sebagai seorang suami… luar biasa. Itu kesan khusus Hartini, wanita cantik yang dinikahi Bung Karno sebagai istri ke-4 (setelah Utari, Inggit Garnasih, dan Fatmawati). Salah satu hal luar biasa yang dikemukakan Hartini adalah, “Bapak memperhatikan betul semua keperluan istri-istrinya.”

Jalinan cinta antara Bung Karno dan Fatmawti

Jalinan cinta antara Bung Karno dan Fatmawti pada awalnya membutuhkan perjuangan yang sangat berat. Demi memperoleh Fatmawati yang begitu dicintanya Bung Karno dengan perasaan yang sangat berat terpaksa harus merelakan kepergian Inggit. Sosok wanita yang begitu tegar dan tulusnya mendampingi Bung Karno dalam perjuangan mencapai Indonesia Merdeka.

Dibalik Kebesaran Soekarno

“AKU ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat.” Pengakuan ini meluncur dari Soekarno, Presiden RI pertama, dalam karyanya Menggali Api Pancasila. Sadar atau tidak sadar ia mengucapkannya, terkesan ada kejujuran di sana. Soekarno, sang orator ulung dan penulis piawai, memang selalu membutuhkan dukungan orang lain. Ia tak tahan kesepian dan tak suka tempat tertutup.

Kamis, 02 Desember 2010

Religi & Religiusitas Bung Karno

BUNG Karno kira-kira berkata begini, “Tubuh bisa ditiadakan, tetapi roh tidak”. Bung Karno telah tiada, tapi rohnya, bahasa dan spiritnya masih hidup, tidak bisa ditiadakan, bahkan tidak bisa dibiarkan berlalu tanpa tarikan empati, lebih-lebih masa sekarang. Di tengah krisis serba muka seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, roh Soekarno hidup kembali, seolah-olah berkata: “Katakanlah sekarang tentang apa yang telah saya katakan waktu dahulu”.

Pidato Yang Meresahkan

Malam 1 Juni adalah malam paling meresahkan bagi Bung Karno. Meski dipejam-pejamkannya kedua mata, tak juga mampu mengundang kantuk. Dalam hal Indonesia merdeka, hatinya sudah bulat. Hakkul yakin. Dalam hal kemerdekaan hanya akan kekal dan abadi manakala dilandasi persatuan dan kesatuan, Bung Karno pun hakkul yakin. Meski begitu, ada perasaan yang menghendaki dorongan lebih untuk berbicara keesokan harinya.

Presiden Soekarno Dan Tragedi Lubang Buaya

Sejak masih di bangku Sekolah Dasar fikiran kita telah diyakinkan dengan sebuah alur cerita keganasan peristiwa G30S PKI. Dalam benak kita juga dijejalkan suatu illusi bagaimana para Pahlawan Revolusi mendapat perlakuanyang sadis sebelum mereka dibunuh dan dimasukkan ke Lubang Buaya. Untuk beberapa tahun fakta itu sepertinya sebuah kenyataan.
Dengan berakhirnya kekuasaan orba maka perlahan terjadilah perubahan sudut pandang tentang berbagai hal menyangkut peristiwa G30S PKI.

Antara Soeharto dan Soekarno

Soekarno telah menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Ada sejarah yang belum terungkap dan masih diliputi kabut tebal misteri. Ada pula yang secara perlahan kian terang. Rezim Orde Baru pimpinan Presiden Jenderal Soeharto yang didukung Golkar sebagai mesin buldoser pendulang suara rakyat (saat itu tidak mau disebut partai politik) berkuasa selama 32 tahun. Negeri ini (katanya) tengah membangun, namun yang tak disadari oleh semua orang dananya ternyata dari hasil utang luar negeri.

Kuasa Sang Jenderal

Soeharto masih dengan tenang bisa menikmati masa pensiunnya, tanpa perlu kehilangan pelayanan VIP (Very Important Person) yang ia dapat saat masih menjabat orang nomor satu di negara ini.

Tampuk kekuasaan diraih Soeharto dengan cara yang tidak lazim. Berbekal selembar kertas Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret), ia dengan leluasa mengambil alih kepemimpinan Soekarno. Berbekal surat sakti itu pula, Soeharto menyingkirkan semua pihak yang dianggap menghalangi semua kebijakan yang ia buat untuk melanggengkan kekuasaan, dengan tindakan represif nan kejam.

Soeharto Sosok Jenderal Kontroversial

Nama Jenderal Soeharto dalam kancah sejarah Indonesia tidak bisa dilupakan begitu saja. Betapa tidak, dialah presiden RI yang menjabat paling lama yakni 30 tahun. Terlepas dari kontroversi gaya kepemimpinannya, Soeharto adalah Presiden Republik Indonesia yang cukup tersohor. Manuver-manuver politik Presiden Soeharto sungguh mencengangkan dan sikap otoriternya yang menjadi bahan perbincangan para sejarawan hingga hari ini.

Senin, 22 November 2010

Very Idam Henyaksyah Alias Ryan – Si Tukang Jagal

JOMBANG – Terjun ke dunia gay yang salah menurut agama dengan mengobral cinta sejenis membuat Very Idam Heryansyah alias Ryan, 30, lupa diri. Kenikmatan hidup bergelimang dosa itulah membuatnya terjerat dalam kasus pembunuhan berantai.